Pagi ini sebelum suara sumbang toa mushola menggema memberi kabar tentang waktu imsak, aku dan bayangan kantuk menemani menelusuri jalan kota, disebuah warung kecil aku berhenti sejenak mengisi perut sebagai salah satu pelengkap puasa hari ini, sahur. Seorang wanita baya dengan lelah yang nampak dari raut wajahnya berselimut kerudung lusut, walaupun demikian ia dengan ramah menguguhkan nasi dan teh hangat sesuai pesanan. Aku mulai mengawang jauh dalam pikiran, mungkinkah beliau berpuasa seperti puasa saya atau seperti puasa para saudagar muda? Berapakah bobot timbangan dari puasanya? Sama atau lebih berat nilai pahala di setiap pelaksanaan puasanya nanti? wallahu'alam...
Puasa, menurut polapikir manusia secara universal merupakan ibadah transendental atau sebagai laku komunikatif antara diri dan ilahi seperti halnya solat. Kita seringkali tidak memperhatikan kondisi sosial atau minimal memberi nilai pengabdian kepada sosial dalam laku poso. Dalam laku seperti itu tak pelak poso lebih mudah dilaksanakan, berbeda jika kita diposisikan layaknya ibu penjual makanan diwarung, sebagai petani yang kepanasan atau tukang becak, dsb. mereka melaksanakan poso sebagai laku ibadah sosial, artinya bukan hanya laku transendental melainkan juga horisontal dengan memberikan kemanfaatan kepada khalayak lain. Dalam pikiran ku selayaknya mereka mendapatkan keringanan dalam pelaksanaan atau mendapatkan pahala yang beda dalam setiap satu kalinya. wallahu'alamu.
Malam ini, dengan memperhatikan ibadah seorang ibu aku jadi teringat sosok ayah ku yang dalam pandanganku sering tidak melakukan puasa karena kondisi tekanan yang beda -petani-. aku sering mengatakan islam ayahku kurang lengkap karena seringnya ia tidak puasa, walaupun aku tidak tahu bagaimana super beratnya melawan terik matahari dan kehidupan sawah. Ternyata asumsi itu tidak hanya keluar dari aku, banyak orang-orang mengatakan atau bahkan memojokkan tukang becak, tukang bangunan, dll dengan ketidaktaatan kepada kewajiban. Seakan mereka menyamaratakan laku poso mereka -pekerja kantor- dengan pekerja jalanan -langsung terkena sengatan matahari- yang secara fisik mendapat tekanan berbeda.
Seperti halnya solat, setiap pelaksanaannya ada ruksoh bagi yang tidak mampu sesuai kondisi fisik dan mental pun demikian seharusnya puasa, bagi pekerja kasar ada sedikit keringanan, misalnya puasa setengah hari dengan nilai yang sama. Sehingga orang muslim dapat melaksanakan kewajiban yang satu ini dengan hati yang senang. tapi dalam otak kecil ngatakan bahwa klasifikasi shoimuun menurut al ghozali dengan awam, khos, dan khowasul khos ditentukan karena kondisi tekanannya. wallahu'alam
Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo
"G U B U K K I T A"
Gubuk Untuk Sekedar Berbagi...
Sabtu, Agustus 29, 2009
Belajar dari Ketut
Malam ini sangat indah, bukan karena keheningannya ditambah semilirnya angin malam dan lukisan bintang ciptaa-Nya justru keindahan ini terpancar melalui sikap dan laku manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dingin malam yang menusuk rongga pori2 tak mampu mengalahkan kekuatan sebuah tawa, marah dan tangis, malam ini. Ya, Malam penuh tawa, penuh amarah akibat ketidaktepatan menempatkan kentut, memang kentut itu anugrah dan sebagai muslim harus mensyukurinya. Namun jika tidak diatur -kondisikan- jadinya selain tawa, musibahpun bisa datang karenanya. hehehe
Entah karena tekanan dari orang dewasa -biasane cah cilik yen sholat neng njero mesti oleh teror ko wong tua, ora oleh gojeklah, ora oleh meta-metulah, ora oleh ngguyulah, dsb- sehingga peristiwa kentut membuat ketawa malam ini. malam ini pun seakan menjadi pelajaran yang penting, bagaimana orang tua memberi pelajaran kepada anak dengan "biyadih" atau lebih tapat "hukuman fisik" untuk memberi rasa jera kepada pelaku kemungkuran, dan menafikkan asas kemaslahatan dari sisi spikologis seorang anak. Mungkin ia menyerap seluruh hadist "man ra'a minkum munkaaroon fal yu ghoyyir biyadih, faillam yastati' fabilisaanih, faillam yastati' fabiqalbih, fadzalika adh'aful iman", maaf kalau kutipan hadits salah, barangkali ia ingin menjadi muslim kaffah sehingga perlu memberi pelajaran kepada siapapun yang tidak menempatkan kebathilan pada tempatnya dan hal ini masih saja terjadi di sini. "semoga tidak untuk kota lain". amin.
Hanya karena tidak sengaja kentut, (karena siapa yang bisa menahan kentut) anak menjadi bulan-bulanan tidak hanya dengan hujatan tetapi lebih dari itu semua menertawakannya. Padahal secara psikologis, anak rawan strees yang berpengaruh terhadap perkembangannya. Memang benar bahwa itu (kentut) salah karena tidak pada tempat dan waktu yang tepat, tetapi tidak seharusnya ia mendapatkan perlakuan seperti itu, mungkin inilah watak orang-orang disekeliling ku atau lebih universal menjadi watak bangsa untuk menertawakan kesalahan orang lain. "Mungkin?", tapi paling tidak menjadi "kaca benggala" bangsa ini.
Kasihan dia "anak kecil yang tak tahan kentut" hanya karena ingin mensyukuri rahmat Tuhan, ternyata justru adzab manusia yang ia dapatkan. Padahal tak semestinya mendapat perlakuan itu sedang ia dalam kondisi yang masih butuh bimbingan. Semoga Esok manusia mau berfikir 100x untuk melakukan sesuatu, dan mempertimbangkan segala hal termasuk sisi psikologis seorang anak, dalam kasus "kentut" malam ini.
Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo
Entah karena tekanan dari orang dewasa -biasane cah cilik yen sholat neng njero mesti oleh teror ko wong tua, ora oleh gojeklah, ora oleh meta-metulah, ora oleh ngguyulah, dsb- sehingga peristiwa kentut membuat ketawa malam ini. malam ini pun seakan menjadi pelajaran yang penting, bagaimana orang tua memberi pelajaran kepada anak dengan "biyadih" atau lebih tapat "hukuman fisik" untuk memberi rasa jera kepada pelaku kemungkuran, dan menafikkan asas kemaslahatan dari sisi spikologis seorang anak. Mungkin ia menyerap seluruh hadist "man ra'a minkum munkaaroon fal yu ghoyyir biyadih, faillam yastati' fabilisaanih, faillam yastati' fabiqalbih, fadzalika adh'aful iman", maaf kalau kutipan hadits salah, barangkali ia ingin menjadi muslim kaffah sehingga perlu memberi pelajaran kepada siapapun yang tidak menempatkan kebathilan pada tempatnya dan hal ini masih saja terjadi di sini. "semoga tidak untuk kota lain". amin.
Hanya karena tidak sengaja kentut, (karena siapa yang bisa menahan kentut) anak menjadi bulan-bulanan tidak hanya dengan hujatan tetapi lebih dari itu semua menertawakannya. Padahal secara psikologis, anak rawan strees yang berpengaruh terhadap perkembangannya. Memang benar bahwa itu (kentut) salah karena tidak pada tempat dan waktu yang tepat, tetapi tidak seharusnya ia mendapatkan perlakuan seperti itu, mungkin inilah watak orang-orang disekeliling ku atau lebih universal menjadi watak bangsa untuk menertawakan kesalahan orang lain. "Mungkin?", tapi paling tidak menjadi "kaca benggala" bangsa ini.
Kasihan dia "anak kecil yang tak tahan kentut" hanya karena ingin mensyukuri rahmat Tuhan, ternyata justru adzab manusia yang ia dapatkan. Padahal tak semestinya mendapat perlakuan itu sedang ia dalam kondisi yang masih butuh bimbingan. Semoga Esok manusia mau berfikir 100x untuk melakukan sesuatu, dan mempertimbangkan segala hal termasuk sisi psikologis seorang anak, dalam kasus "kentut" malam ini.
Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo
Langganan:
Postingan (Atom)