"G U B U K K I T A"

Gubuk Untuk Sekedar Berbagi...

Senin, Agustus 17, 2009

Menanti Malaikat Terbaik

Setelah malam itu, aku kembali seperti dulu, hidup penuh keinginan, penuh penantian, dan penuh harapan sekedar melihat rembulan malam melewati mega diatas pohon kerinduan, walau pun aku sadar itu absurd karna kau hidup di dunia yang berbeda dari dunia ku. Tapi aku tetap menantikan belas kasih Mu kepada sesosok musaffir cinta seperti aku ini.

Malaikat ku, andai engkau tahu apa yang ada dalam do'a ku, do'a mereka dan do'a bangsa, tentu kau akan mengamini -bersama teman-teman terbaikmu- semua keinginan itu. Karena aku tahu engkau adalah sosok yang mengidamkan kedamaian, keindahan, juga kebebasan tanpa Radikalisme, tanpa Doktrinasi atas nama apapun, tidak seperti yang kau alami di luar sana, malam itu. Dan dalam do'a bangsa itu, aku menyelipkan do'a special, khususon untuk engkau bunga mawar ku, do'a yang hanya terdengar oleh Tuhan kita vis a vis tanpa makhluk lain, selain aku dan Tuhan Mu.

Putri, esok kita akan merasakan buah dari do'a aku dan bangsa, kita akan mengetahui sebesar apakah efek dari do'a bangsa, kita akan mengerti seikhlas apakah do'a bangsa, kita juga akan paham sevariatif apakah motif do'a bangsa, dan tentunya kita akan memahami sikap apakah setelah do'a bangsa, karna kita semua mengakui kebenaran atas balasan setiap laku dan do'a bangsa. Karna sesungguhnya Tuhan, Malaikat, dan Utusannya akan membalasnya. Engkau harus percaya bahwa do'a ku do'a yang terkabul, bahwa niatku sebaik-baik amal, bahwa motif ku hanya untuk engkau belahan hati ku. Malaikat kecil ku, aku akan tetap menanti balasan dari do'a ku, pun aku inginkan dari mu, aku ingin engkau menolak apapun selain karna cinta mu pada ku, seperti halnya aku, tidak ada malaikat lain selain engkau. Karna aku tahu bahwa engkau lebih sakit di sana dari kesedihan ku.

Seharian sudah aku menanti, mengharap hadir mu walaupun hanya sebuah ilusi, aku tetap menanti sampai benar-benar rasa itu mati, "kau pasti datang, walau lewat pesan pendek -SMS-? obat ku untuk jiwa yang mulai bosan. Ya, aku mulai bosan menanti ketidak pastian, seperti aku menanti sebuah undian yang penuh probabilitas, absurditas, atau apapun yang bisa mewakili perasaan gamangku saat ini. Malaikat kecilku, jangan engkau biarkan sifat indahmu berubah jadi iblis dalam pandangan ku, aku tak rela itu terjadi. Tapi aku adalah manusia, punya qolb yang bersifat molak-malik -berubah-ubah- ingat itu malaikat kecil ku. Sampai kapan aku harus begini? sekali lagi aku mempertanyakan konsistensi dan komitmen dari rasa itu, kepada engkau malaikat ku, dalam hati ku.

Putri ini sisa penantianku untuk mu, aku yakin bahkan ainul yakin bahwa sesungguhnya kau tahu perasaan ini sebab engkau juga manusia, punya perasaan yang tak ingin dimainkan apalagi dibekukan dalam penantian yang tak berujung seperti lukisan yang tak berbentuk, tapi putri, engkau jangan pernah menghawatirkan kesetiaaku, karna sampai kapanpun engkau tersenyum aku akan menerima dan menyirami kembali benih rasa ini hingga tumbuh kembang kembali, karena engkau tahu siapa aku? manusia paling sempurna setelah dirimu.

Dan hari ini berlalu begitu saja, tidak ada kesan kalau kemarin di sini baru mengadakan pesta besar, do'a besar, syukuran besar, seperti perasaan ini, berlalu tanpa goresan tinta dalam lukisan cinta. Absurd! kata ku mencoba mengingat perasaan itu, karna memang cinta itu absurd dan harus dilupakan. Malaikat ku, maafkan aku, dalam sesal ku, aku slalu menanti hadir mu, senyummu, inginku sekali lagi. Absurd!. Akhirnya, dalam diam aku berdo'a Seperti pepatah; Kemaren adalah sejarah, Esok adalah misteri dan Hari ini adalah anugerah. Begitu juga diriku, akan menerima dan bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan kepada ku, begitupun do'a ku untuk mu Malaikat Kecil ku. Amin.

17-08-2009
Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Tidak ada komentar: