"G U B U K K I T A"

Gubuk Untuk Sekedar Berbagi...

Jumat, April 15, 2011

Hujan dan Dirinya

saat sedang berjalan

tiba-tiba hujan jatuh turun

membasahi sebagian tubuh lelaki

yang hatinya terpilih rindu purba

ia berteduh runtuh.



hujan sontak hentak bertanya

perihal perlakuan dan sifat lelaki

terhadap dirinya yang beda:

"hai lelaki, mengapa engkau

perlakukan aku dengan sifat yang

beda sangat berbeda?"



lelaki kemudian berkata

dalam tatapan kosong mlompong

"ya, kepada engkau kini aku tak lagi

bahagia dan tak lagi ada tangisan"

ia kemudian melukiskan huruf

diatas daun pisang dari samping ia

berdiri dan lalu mengalirkannya

bersama air hujan.



hujan semakin keras larinya

petir pun tak luput menyambangi

seakan memberi rasa kepadanya

"kepedihan selalu ada jika cinta telah tiada."





RH.14.05.2011


Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Senin, Januari 24, 2011

Jadikan Yang Terindah

untuk Sisye Debby Diawang

Mbak :



Hidup memang begini adanya

Hitam dan putih saling silang menyapa

Tak mampu kita menyangka tak bisa kita mengelak darinya

Biarkan ini berlalu, berlalu secepat putaran waktu

Dalam hidupmu.



Jadikan engkau yang terindah,

Menjaga cinta kepada semua yang terjadi.

Meski tak seperti keinginan hati

Hidup hanya sekali, sebentar dan akan mati.



Dia memiliki bahasa lain

Saat menjadikan insannya yang terindah

Sambutlah dengan ketulusan cinta

Seperti mawar kepada kumbangnya.



Jadikan yang terindah

Meski saat Dia berbahasa kepedihan,

Kepada kehidupanmu.





GM.23.01.2011

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Enak Nemen: Proposal Lama Iyem

Enak Nemen: Proposal Lama Iyem

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Proposal Lama Iyem

Iyem, sayang ku. Tiba-tiba menyodorkan proposal lama yang tidak direvisi sama sekali. Proposal itu memiliki rumusan masalah yang sangat mudah tapi njimet saat menjawabnya.



Bagaimana jika orang tua menanyakan pernikahan, Abie? Bagaimana bisa Abie memandang tiga tahun waktu yang pendek untuk sebuah hubungan?



Maaf Abie… aku butuh kepastian, layaknya wanita. Abie tahu itu kan? Tiga tahun Abie, tiga tahun?! Kalo memang berat bagi Abie untuk menjawab…bilang saja. Jujur aku malu Abie. Bukan kepada Abie tapi orang tua. Lagi pula kita hidup di desa bukan metropolis. Lingkungan yang masih memiliki rasa pekewoh. Sekali lagi, tiga tahun Abie!?



Abie tahukan, kalo tetangga-tetangga sudah memotret kita dan memajangnya dalam pelaminan. Jadi bukan aku yang memaksa Abie tapi tetangga. Maafkan, Abie, maafkan. Iyem pingin kita segera menikah.



Abie, iyem butuh secepatnya di acc keluarga Abie.



Iyem?! T o l o n g jangan tanyakan pertanyaan itu lagi. Aku paham maksud mu, Yem. Kamu tidak ingin kisah pilu itu terulang. Mempercayai seseorang tetapi sia-sia. Dia pergi dan kamu menangis. Iya kan!?


Yem?! Ini aku...?! Bukan dia, bukan. Aku tidak ingin gegabah, pun tidak mudah berubah, yem. Sudah sering kau dengar itu kan. Aku punya satu jawaban, i y a. Tapi bukan sekarang waktunya.


Kita pasti nikah, Yem.



Malam bingung, antara hujan dan tidak…



GM.20.01.2011

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Jumat, November 05, 2010

Seperti Air

dipersimpangan malam,
anjing dalam dadaku menggonggong keras
memaki egomu, setiap jangkah aku melangkah
mencoba membakar potret-potretmu
tapi hatiku seperti air
kepada mu...

05/11/2010
Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Rabu, November 03, 2010

Tentang Merapi

...


Semua mata berbaris menamati perkara.
Tentang duka tanpa masa, tentang kuasa tanpa raga.
Menangislah kita, Matahati...

3/11/2010

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Kamis, Oktober 14, 2010

WANITA DALAM HANDPHONE

WANITA DALAM HANDPHONE (1)
Meski Hanya Kata; Jika Cinta


Sudah pagi. begitu sapa tangan pada mata. kemudian. seperti petugas pemadam kebakaran, ia langsung menyisir sisi kanan-kiri, "Hp!... mana hp!?" dan persis di sebelah kepala. "Alhamdulillah!?" seakan-akan ada sesuatu yang di nantikan. sangat lama. "satu pesan diterima", tertulis dalam layar hp monopolix. ia girang. segera mengabarkan pada kaki dan lalu memerintahkannya untuk bangun. "Lagi miduk king jama'ah, Mas. Ki meh lanjutke bobox.hehehe...." kalimat yang termaktubi dalam layar hp. kemudian ia tersenyum lega. "Hehehe....nggeh, sugeng tilem Nok?!" sahutnya lewat pesan ulang. dan ia pun berlalu dari kamar mini dan menjemput sang mentari. 05.45.

sebelumnya,

"Sugeng ndalu, Nok?"
"Nggeh mas. og deleng tilem, sibuk ta?"
"Mboten og. kademen ki, dadi ga isoh turu. lah pean tumben deleng tilem?" tanyanya lagi.
"Niki mpon liyer-liyer mas. punten yen mengke mboten mbales. hehehe.....". Jawab wanita dalam hpnya. ia tersenyum. meski terlambat ia terima.

Memang benar. itu ungkapan terakhir dari wanita yang buatnya tersenyum. bikin hidup lebih hidup. ceritanya pada malam. "Sugeng tilem, mimpi indah Nok....?" tuturnya. sembari mengharap ialah lakon dalam mimpinya, nanti. terlelap.

hingga,

Suara adzan membangunkannya. sebuah kebetulan atau memang rutinitasnya. bangun saat waktu subuh datang. tanpa pikir panjang. ia tulis kata-kata, "Sholat Nok?!" kemudian ia haturkan pada wanita indah malam tadi. hampir satu jam. tidak ada balasan darinya. sedikit bosan. hingga akhirnya, ia pun kembali tersungkur di kasur busa. warna tanah. lelap. 04.30...

Terimakasih....


Hahaha.....bahagia, meski hanya nama...
GM/9/10/2010




WANITA DALAM HANDPHONE (2)
Si Jireh

Saat sedang menikmati kopi dan sebatang super bersama. Tiba-tiba, “tiittit….tiittit.” Pertanda pesan tersambung lewat hand phone warna pink. “Ndang bedek! sapa brow?!" Tanyaku pada seseorang berambut gondrong. “Mboh!” Terkanya dengan acuh. Tak mau tahu. Sebab kopi digenggamannya lebih nikmat. Lebih memuaskan dari sekedar memprasangkakan seseorang dalam hp tak bertipe. “Bajiruut….!!!” Timpukku spontanitas. “hahaha….!?” Balasnya dengan lega. Tanpa perasaan marah. Atau ganti mengataiku dengan gunjingan. Semisal, ndasmu, matamu, atau apapun. Ya, kita memang sudah tidak punya amarah laiknya manusia.

“Oh! Donking…?!” Ucapku. Seraya mengabarkan pada lelaki disampingku. Seperti terkaanku, si gondrongpun penasaran dengan pesan ini. Maklum kita berdua kenal bahkan akrab dan sering mengerjai teman wanita yang memiliki sifat penakut dengan sesuatu yang ghaib. Setan. “Ndang buko!? Apa smse!" paksanya. “Sek toh!? Bajirut…”. Balasku. “Pakdhe…?!” Cetus si gondrong, mencoba memvisualisasikan kata-kata dalam pesan singkat ini. “Balesen brow!?. Ku ga’ ana pulsa ki?!” Pintaku pada si gondrong. Tanpa berfikir lama. Ia pun dengan lihai memencet-mencet keypet hapenya hingga menjadi sebuah kalimat. “cah jireh, wis sarapan rung? Ki ku neng warung.” Dan melepasnya ke alamat dengan nama “mbohyak” dari hpnya. Tak lama berselang. “hahaha…” reaksinya setelah membaca balasan dari wanita “jireh”. “Ku gak bias tangi ki…gawake rene ya?! “. "Wegahmen!!! Reneo!?”, balasnya. Sedikit lama sambil menikmati super dan si coklat pahit.

“Tenan pakdhe, ku gak isho tangi.” . Si jireh menegaskan kepada kami. Tentang kondisi fisiknya sedang sakit. “Ndak yo Leh? Terus sing smsan ki sapa jal?! Si gondrong membalasnya dengan enting. Hahaha….kamipun terbahak2. Membayangkan ekspresi wanita dalam hand phone kala membaca balasan ini. Tak habis kami tertawa, “Ki aku gak tangi tapi melek, pakdhe!” . Balas wanita yang berbadan mungil dengan nada keras. Itu kira-kira yang kami tafsirkan atas tanda seru “!” Dalam tulisnya. “Yen gak gelem gowo rene, yo is rasah nawani!". Lanjutnya. “Tenan ya?!” Kami coba meledek. Dan sudah dapat kami terka apa yang akan dia balas, “Mboooohhhh!!!”. Kami tertawa, sebelum membuka pesan replay darinya. Hahahaha.... Dua jam berlalu, rokok dan kopi telah lebih dulu pergi. “Yo is, ki meh muleh, don.” Ungkapan sebelum pergi, dari kami. DonY adalah kekasih wanita dalam hand phone, maka kami lebih suka memanggilnya dengan sebutan itu. Sebagai bagian dari penghormatan manusia yang sedang memadu kasih dalam sayang. Pun sedikit ledekan.

Terimakasih.....

Pagi buta, sebagai teman sarapan….
Gm/9/10/2010



WANITA DALAM HANDPHONE (3)
Sedari Dulu, Mengagumi Si Lesung Pipi


Terkadang. Keinginan sangat sulit untuk dikekang. Seperti aku, kepada dia (wanita dalam handphone), tiba-tiba. Tanpa peduli bahwa handphone baru dices. Dengan buruburu aku tulis layang: "Gi napa Nok?", ya ku panggil dia dengan sebutan Nok. Terasa lebih dekat. Erat. Daripada harus memanggil namanya yang arabian "Berbahasa Arab". Berdebar-debar dadaku meski tetapi handphone tak lepas dari genggaman sebelum layangnya datang kepadaku. "Cepet bales nok!!!", hatiku mulai gelisah. Seperti suara pujian dari surau yang telah lama menunggu imam. Semakin lama terdengar pecah. 18.00.

"Monggo buka riyen mas?", balasnya. Setelah ngadat tiga puluh menit. Biasanya secara spontanitas aku marah. Memaki. Setiap kali sms dan jawabannya terlambat barang sepuluh menit. Tapi, kali ini tetap saja mengembangkan senyuman indah dari bibir ku. Oh ya, dia sangat sholih, menurut ku. Setiap senin - kamis tak pernah luput berpuasa. Meski pernah ku tanya kenapa? Dan ia tak mau menjawab. Baginya alasan ibadah tak perlu di-jlentreh-kan sampai sedetail mungkin. Ikhlas adalah keinginannya. "Gusti! Beri keberkahan baginya, wanita yang berkerudung, dan berwajah lembut, sangat lembut, tanpa bedak, hanya air wudhu". Pintaku dalam sanubari sebelum membalasnya dengan kata yang sama: "Nggeh. Mugi mberkahi, amin." untuk dia. Setelah itu, hampir satu jam. Stagnasi. -Aku memafhumi, waktu sholat isya' telah menyapa dan tentunya ia berjamaah. Sebab yang ku tahu dia sangat memegang teguh doktrinasi "Assholatu 'ala waqtihaa".- Diam. Seperti malam yang begitu menikmati lentingan air hujan.

Hujan tak jua reda. Seperti diriku yang tak lagi sabar menginginkan kabarmu. Dari balik handphone. "Nok?" tanyaku kepadamu. "Nggeh Mas. Pripon?" balasnya dengan begitu lembut. "Sinau ta?" tanyaku lagi dengan sedikit basi. "Nembe mawon rampung ngaos Yasin Tahlil Mas." jawabnya. Meyakinkan. Sedikit malu aku membacanya. Sebab sudah begitu lama tak membukanya (Yasin dan dzikir Tahlil). Surat yang dulu ku hapal, sekarang? Hehehe.... "Oh nggeh. Mbok kulo diajari Nok?". Sahutku. "Hehehe..... (aku membayangkan begitu lesung pipinya, manis) kedahe kulo sing nyuwon diajari, Mas...?" Sekali lagi dia buatku terbuai dalam kekaguman. "Hehehe....kulo niku saget napa toh, Nok? Dan kali ini ku tikungkan obrolan. Sebab aku takut dia mulai buat ku terdiam dan membohongi diri kepada mu. "Nok, kapan kulo dijak maen ten griyone pean?". "Mas Griyo Kulo Gubuk Leh. Eh mboten gadah griyo deng?! Jawabanmu kali ini. Mengagetkan. "Eh nok, emang tentrem iku ukurane fisik ta? Ku lagi ngerti kie...!" tanyaku dengan sedikit gertak. "Nggeh mboten sih!? Hehehe...." Jawabmu dengan senyuman itu lagi. "Berarti kapan ku nganter pean wangsol ten griyo? Tandasku, sedikit bermain mantiq. "Nggeh kapan-kapan mawon mas, soale kulo dereng pengen wangsol." Jawabmu sedikit memberi janji bercampur perasaan malu. "Nggeh mpon. Ndang sinau ya Nok. Sesok kuliah ta?" Kataku mulai mengakhiri. "Nggeh Mas. Pangestune ya Mas." Jawabnya. kali ini benar-benar buatku tentram. Meninggikan rasa kepadamu. "Nggeh. Dungodinungo ya Nok?" Jawabku. Mengharap doamu yang lebih putih daripada ku. "Nggeh mas Oim...?" Katamu mengakhiri obrolan malam ini. Berirama rintik hujan. 21.00.

Malam ini begitu indah meski begitu tenang. Seperti hatiku. Yang mulai menyadari bahwa mengagumimu sudah sedari dulu. Begitu tenang dan jika waktunya ku akan mengibarkannya dengan lantang kepadamu. Wanita dalam handphone. Met istirah, esok menanti dengan lesung pipimu. Manis. Terimakasih.



Kata-kata adalah awal dari lukisan kita tentang dia. Tentang rasa. Tentang segalanya...
GM/14/10.2010


Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Kamis, April 15, 2010

Bulan 3 - 4 - 2010

POTRET AYU

Potret ayu:

Aku Menemuimu Di Bilik Baju Warna Hijau
Melihatmu Bahkan Harus Menamati Sisisisimu
Masih Jelas Wajah Ayu Nan Merindu
Berkerudung Sewarna Mega Putih Cerah
Engkau Masih Bahkan lebih ayu.

Oh,
Lembut tatap mripatmu?
Manis senyumanmu?
Aku kepincut, entah berapakalinya
karna potret ayu. Tak pernah layu.

Meski engkau nun disana...
GM/8/04/2010
------------------

DIAM

Diam:
Bukan Tidur
Bahkan Lebih Dari Sekedar Anteng

Hanya Ingin Meneng
Dari Hati Yang Nggreneng
Kehidupan Yang Sepaneng
Ego Slalu Manteng

Diam:
Ayem
Tentrem

Semua Akan Kembali Anteng...
GM/7/04/2010
-------------------

LOSS

Kamar ini.
Tak lagi berimaji. Berseri.
Atap goa bercahya sabit.
Bingkai lusut.kalut. Senyummu.
Tergores makna "selamat tinggal".

Akhirnya...

Terbayang...

Menghilang...

Selamanya.

GM/1/4/2010
--------------------

ENGKAU DIMANA...?

Kasihku...
Mari kita tidur
malam telah menjelang
dingin memaksa bercinta

kasihku...
Mari kita tidur
peluk. Dekap erat tubuh lusutlelah ku
meski tapi aku tetap menjamu tubuhmu

kasihku...
Mari kita tidur
jangan lagi cerita tentang dunia
meski esok datang dengan ketidakpastian

kasih ku...
Oh bunga ku...
Oh cinta ku...

Engkau dimana?

GM/31/3/2010
----------------------

Kan Kulukis Senyummu

Malam ini:
rembulan terlalu rapat berselimut malam.
Cahyanya tak mampu menyusup langitlangit hatiku.
Dan tetapi engkau terlalu indah di malammalamnya.
Hingga esok kan ku lukis senyummu dengan pelangi.
Agar aku takkan lagi kehilangan cerita tentangmu.
Pun saat mentari datang membelah malam.



Pasti kan bahagia
GM/30/3/2010
-------------------------

CEMBURU

Maafkan bila ku menafikkanmu.
Sedang kerinduan tetap melekat dalam diri.
Seketika buyar terkaparkapar bersama senyuman.
Malam pun bertanya tentang ia yang kau peluk mesra.
Dan tetaplah menjadi rembulan di langit. Meski berbintang.


Aku tak bisa menyentuh cintamu
GM/29/3/2010
----------------------------

Untuk Kita Berdua

Kembang purnama ?
Syair cinta yang kau rekareka tak lagi terbaca
Senarsenar setia tetap ada meski telah renta
Dan tetapi dentingnya tetap sempurna
Bernyanyilah...nyanyikanlah untuk kita berdua.

Denting Cinta
GM/29/3/2010


Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Minggu, Februari 21, 2010

Tentang Rasa

Lagu Hamba


Di alam kami;

Nyanyian Alam.
Syair Muram Malang-malang.
Kord Tanpa Terbaca Lidah Tulang.
Lirih Perih Tak Terkadang.
Harihari. Sepenjuru gedung.

Lagu Cinta Sang Paduka.
Indah Tak Terraga Rasa.
Sumbang senada karang.
Beriak anakanak. jelas
Ditelinga kami hamba raja.
Yang paling setia karna tak kuasa.

Alamku semakin kelam.
Suara-suara semakin runyam. Kelam.
Hamba terbungkam asosiasi.
Lelah menunggu pasti tak pasti.
Tanpa kaki, lidah, tangan kami.
Hidup entah mati.


Sajak Nelangsa

GM/20 Februari 2010.
=========

Di(terima)kan-lah

ingin;
merengkuh tanpa peluh
mencinta sedang tanpa rasa

ingin;
kembali-kan berisi
hilang-lah(kan) getir cinta

ingin;
asa masih mengada
be(ter)rasa seumur kata

kembali disini.

mereka kakikaki, luka
merenda tapaktapak, perih
: kedua (inginku)

di(terima)kan-lah
ini (rasa) ku...


sambut tanganku...

GM/19 Februari 2010.
=========

JAtung Hati

dimanakah...
kau simpan sayank itu dalam
kau alirkan cinta itu tulus
kau taburkan kasih itu semebyak
aku linglung mencari, dimana
goresan merah hatimu itu...?!

dimanakah...
aku harus berdiri menanti, cerita tentang mu
adakah ruang kosong dilubang hati mu
tempat yang pernah buatmu bahagia
meski hanya sementara, sekejap saja.

ditempat manakah, darimu
aku sudahi pelarian ini, dari sejuta penantian
entah. tetapi meski aku belum menghafal detak jantungmu,
helaan nafasmu detik demi detik,
cukup dengan kekuatan akar bagi rindang pohon.
aku memeluk semua cintamu. nanti.


Dimanakah?

BTN/5 Januari 2010
==========

Mendung Datang Lagi

Surga Ku...
engkau hadir berhias senyum sepoi
bertutur sapa mesra se-mentari timur puncak selo
meski tapi begitu cepat aku kehilangan mu
hingga kini mendung datang lagi menemani Ku.

Surga Ku...
dalam ketika mendung datang
Aku mulai menerkanerka senyummu
merekareka siapa dan kenapa
hingga tak mengapa meski jauh dari cita
cita dibalik mendung mega jingga..


MEga Mendung

BTN/29 Januari 201
=======


Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Minggu, Februari 14, 2010

Diantara Latar Ku

Menikmati Mulutmu (2)

Nikmat,
saat, sinar seumur mentari bayi
mulut mu nikmatkan bibir ku
menghimpit jemari marah-arah
menyibak makna cakrawala
melekkan mata untuk mata
memberi daya kalikali rangka
beriringan air sewarna malam
meng-krukupi rasa hingga
telah menggunungkan abu-abu.
Nikmat.

Gedong Obat, 15 Februari 2010. 05.00
---------------

MATI (I)

MATI...
dengan
BAKAR DIRI...
ini
TAKDIR...
atau
MENAKDIRI DIRI...
?
ENTAH...
tapi
SEMOGA, INI TAKDIR MU...
Selamat!!!
KAMI (AKU) NANTI...
meski dengan
JALAN KAMI (AKU).

29 JANUARI 2010.
------------------

Sampul Kota (3)

Pemalang:

Disampul Kota Terpampang Jelas Kata Perang,
Bukan Eropa Atau Amerika Jadi Enemy Adalah Diri Penuh Birahi Insani//

Tak Jauh, Di Gerbang Rumah Tua Kota Itu,
Pesan Penuh Makna Meski Jadi Sekedar Kata Tanpa Pembaca,
"Clean Government" Tinta Hitam Kini Jadi Putih...

GM/5/12/2009
-------------
Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Dari Bunga: Tentang Duka

To Rohim,

Malam begitu diam, jarum jam berdiri tegak menatap rembulan kelam yang sinarnya temangsang diantara kabut. Sebentar saja suara renta menyapa lewat dengan bahasa onta arabica. Sedang mataku belum bisa puas menikmati dewa mimpi, kini harus dipaksa mekar memahami setiap pasangan alfabetic suratan kata mu. Mulut ku pun belum selesai mendendangkan not mungkur, kur....kurr....dan terpaksa menjadi banser bagi mata ku.

Valentine meskipun telah kabur namun surat ini masih akan aku pajang diantara foto kenangan. Di atas almari yang mulai osteoporosis, dan saling bersisian dengan jam backer berselimut debu pekat. Karna memang tak pernah aku jamah meski hampir seusia dengan mawar merah bukti asmara kita. Aku masih ingat bagaimana wajah pasi mu saat memberikan bunga mawar kepada ku. Meski tetapi aku tidak tahu kapan ia telah layu dan saat ini telah benar-benar menguning.

Sebetulnya aku sudah lama ingin katakan, bahwa bunga mawar tak lagi mekar. Bahwa fotomu tak mampu lagi berdiri mendampingi ku dan sudah lama bersandar. Namun cintamu membimbangkan lidah ku meski tidak hatiku. Lidahku tak mampu berucap menolak dan meninggalkan mu, ia telah kaku menyublim memelaskan diri mu. Tapi dia telah mendekap jantung ku, menemani sumsum ku. Bukan diri mu.

Aku tahu tetesan eluh mata mu, meskpuni lidah melumat habis coklat dan sampai gigimu melumpur sawah. Tapi memang itulah kenyataanya. Valentine, coklat, dan atau bunga mawar mu tak lagi romantis, tak lagi mengharukan bagi ku. Bukan berarti aku memalingkan wajah saat tuan pos datang memberikan selembar kabar dan sepetak coklat dari mu. Juga bukan berarti aku menyuruh untuk mensensor keindahan malam valentine ku untuk sekedar berbagi kebahagiaan kepadamu. Silahkan saja.

Tak perlu aku jawab, untuk siapa valentinemu kini. Sebab engkau dan diri ku hanya terkasih. Ya, aku mengasihi dirimu karna pun demikian diri mu. Sedang malam ini benar-benar aku telah bertemu santo valentinus dengan selembar kertas berbentuk hati melekat diantaranya sang cupid yang begitu manis. Selarik kata cinta nan indah khas madzhab platonik menghusus kepada dari bukan diri mu. Tapi ini tidak bermakna tangisan lebih dalam untuk mu, meski itu terserah pada mu.

Terimakasih ucapan dari mu, tidak lebih seperti untuk valentinus ku. Sebab kini engkau tahu bukan diri mu. Tentang "entah"? Maka semoga cepat datang dan menyelimuti kedinginan hari dan hatimu. Amin.

BTN/15 Februari 2010.


Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Sabtu, Februari 13, 2010

Surat dari Rohim: Prahara Cinta

Dari Rohim Untuk Bunga Tanpa Nama: Di Seberang Kali (1)

Untuk Bungaku, Bunga Tanpa Nama;

Bukan tinta sebenarnya yang ingin aku persembahkan kepadamu, lukisan hati lengkap bambu menancap dalam ditengahnya, sebelum tapi malam ini aku begitu cemburu. Seperti ayam kate yang tak mau melihat "babon"nya di dekati laki-laki lain, meskipun ia lebih jantan. Bukan juga tentang bahwa ia lebih memiliki kaki yang besar dan aku hanya mampu berlari 1000 x lebih lambat dari si dia. Sayangnya. Meski itu pernah seribu kali engkau tolak mentah. Dan bunga ku, ini tentang memahami wanita cantik dan anggun seperti engkau, bahwa tidak mudah memahami dan memang hawa seperti mu harus di mengerti dan dipahami tidak sekedar kasat mata, lebih tepat antara rasa dan mata.

Bahwa dia lebih tampan dari wajah lusutku. Tapi engkau tahu tentang bahwa rasa yang menghempaskan ku untuk lebih, tidak sekedar mengagumimu. Dan hari ini aku cemburu meski tidak mampu, karna cerita tentang aku belum ada di buku harianmu. Tentang tidak maunya engkau menerima sms ku, karna -seribu kali lagi aku katakan- nomor ku seperti nyamuk "aides aigepti" yang membahayakan bagi kemolekan tubuhmu. Sehingga jika engkau tersentuh maka dia akan melepaskan peluru kepada mu, karna ia memang lelaki setia untuk cinta mu.

Bunga Ku, Bunga Tanpa Nama;

Ini bukan sekedar cemburu, engkau pasti tahu itu, pun bukan amarah yang menggebu sehingga membuat ku menutup mata dan loncat dari jendela, engkau tahu kamar ku lebih tinggi dari pohon berusia 100 rb tahun. Lebih dari itu, bunga, ini tentang kegagalan memahami mata, tangan, kaki, lidah, rambut bahkan senyuman mu, yang aku kira tulus untuk ku. Dan memang aku gagal membenarkan sangkaan kuselama hampir setiap hari menemani mendengarkan senyuman mu.

Dan memang benar aku cemburu, meskipun aku tetap menyertakan terimakasih untuk waktunya, senyumnya, cerita-ceritanya, dan segala selama menemani waktu kosongku. Memang aku tidak mungkin meninggalkanmu, tapi paling tidak ini jadi kali dalam perhubungan kita. Dan engkau di depan menggapai cita-cinta mu sedang aku melambaikan do'a kebahagian untuk mu.

Bunga Ku, Bunga Tanpa Nama, Terimakasih.

Gm: 11 Februari 2010

Untuk Bunga Tanpa Nama; Setelah Itu...(2)

Hujan jatuh di dari bola mataku, mendengar larik kata dari penjelasan yang kau kirimkan sesaat -tidak lebih dari lama dari ritual sembahyang ku- kepadaku. Awalnya, aku menerka surat ini sebagai permohonan maaf yang sangat tulus dari mu, kira-kira itu yang aku inginkan darinya. Sebelum benar-benar jantungku mendetak lebih kencang sampai 150 / menit. Dan inilah balasan yang aku tulis dan mohon untuk dipahami sepenuh sisa hati mu saat ini.

Bagiku, semua penjelasan dari mu sangat aku terima dan meski sedikit "ndremimil". Apalagi saat, dengan jujur dan ikhlas engkau katakan bahwa dia lebih sering keluar dari di kehidupan mu. Bahkan 2 kali lebih sering dari rotasi siang dan malam, dimanapun dan kapanpun. Dan memang begitu, bahwa aku hanya mahluk jadi-jadian, datang tiap malam dan siang tak terawang sedikitpun. Kehadirannya pun tak terdengar deru roda apalagi klakson. Seyogyanya engkau akan membius tubuhmu di kasur daripada hanya harus membuka pintu dan membuang pasta gigi yang harum dengan kesia-siaan belaka karna menemani obrolan ngalor-ngidul bersama ku di kursi tamu yang bahkan mungkin merasa gusar saat aku yang datang dengan bau busuk cucian tiga hari. Tapi terlihat sumringah jika si tampan yang datang, karna wanginya sudah bahkan tercium sampai pucuk talok yang setia menyaksikan malam itu.

Aku memang sangat menjaga cinta, tp bukan termasuk posesif. Hanya tidak ingin jauh bahkan jika harus satu senti meter tak mendengar kabar atau lakumu, aku tidak bisa. Apalagi harus melihat dirimu dengan orang yang jelas-jelas perfectionis daripada aku. Marah, itu yang ada saat itu, meski akhirnya aku menyadari diri bahwa dia sangat pantas untuk menemani kehidupan mu. Ya, aku yang memang tidak memahami dirimu apalagi tentang perkara posesif yang untuk mengucapkannya pun butuh gelar sarjana. Untuk hal ini, aku minta maaf. Sebab aku yakin, bahwa saat menemani aku engkau selalu terpaksa dan mengalah.

Cinta memang tidak harus memiliki, tidak harus memeluk, atau bahkan membunuh diri. Ini konyol, sangat konyol. Meskipun sebetulnya seperti strategi umpan balik meskipun ternyata menjadi bumerang dan akhirnya menggigit lidahku sendiri. Padahal, aku terinspirasi oleh seperti sinetron-sinetron indonesia yang dengan mudah bisa membalikkan cinta hanya bermodal kata "lebih baik aku bunuh diri". Sayangnya engkau lebih mafhum tentang perilaku bercinta ini. Sehingga tanpa sedikit melas engkau meyakini bahwa aku tidak mungkin melakukan itu.

Bunga...?

Kini aku hanya bisa memeluk fotomu, menciumi, dan bahkan membelai-belai rambutmu. Sampai matahari terbit barangkali 7 kali, dan setelah itu aku tidak tahu. Selain itu, kini aku mulai mempelajari dan memahami arti dari ungkapan yang pernah engkau slentingkan ditelingaku, bahwa; "jika jodoh tidak akan kemana". Meski sebenarnya aku tidak sejalan soal kata "jika" didepan ungkapan itu. Karna jika demikian maka aku akan rela dan ikhlas menerima mantan-mantan orang lain. Tapi aku tunduk bila tuhan yang berfirman.

Dan akhirnya, penyejukmu telah ku hirup dalam-dalam. Terimakasih, dan bagialah dengan pilihan itu.

Gm/12 Februari 2010

Happy Valentine Day, My Flower. (3)

Untuk bunga ku;

Sebentar lagi, kira-kira setengah lusin, kita sebagai mahluk yang mencinta akan bahagia atau tepatnya akan bertambah usia dalam kasih-menghasihi. Meskipun sebetulnya ini telah saling berikan setiap saat sebab memang kita mahluk penuh cinta. Tapi begitulah yang kita tahu tentang hari valentine dari santo valentinus di negara pizza. Laiknya santo, akupun ingin memberimu kartu ucapan sebentuk cupid dengan warna ungu seperti yang aku kagumi dari kerudung mu. Penuh dengan tulisan cinta platonik yang akan pasti membius mu. Karna aku tahu engkau orang yang mudah dibuai meski hanya dengan kata-kata. Tapi bunga, aku tak mampu menghafal wajah si cupid atau melafalkan cinta platonik. Jadi biarkan aku mencinta mu dengan bahasa ndeso, begitu bungaku.

Itu kira-kira yang -sebenarnya- ingin aku berikan kepada mu, yang selama hampir setiap hari aku himpun bait perbait hingga malam ini dan akan aku lepaskan kepada mu. Aku akan datang membawa setangkai bunga cinta dan sebidang coklat mewarniwarna bertuliskan "aku sayank kamu", dan aku berucap happy valentine, terimalah sayank.aku sudah membayangkan indahnya malam ini, malam valentine. Layaknya valentinus, aku berpenampilan sangat mengagumkan "romantis" untuk mu. Hanya untuk mu, cinta ku.

Tapi tak menyangka, sungguh aku tak menduga bahwa ternyata mendung kelam datang lebih awal. Lebih dekat mengikutiku dengan petir saling-silang sambar-menyambar. Dan akhirnya valentinus pun mati lebih dulu dari sebelum bunga dan cupid ini aku serahterimakan kepadamu. Sebelum bibirmu lebih dulu menancap di keningku. Sebelum kaum platonik mengungkapkan cintanya kepada kekasih jantung hatinya. Dan sebelum aku mencabut keris katresnanku untuk aku hujamkan kepada shintaku. Memang aku tak pernah menyangka.

Hingga akhirnya, bungaku, malam ini aku harus memeluk bunga cinta ku dan memakan coklat kasih ku, sendiri. Bukan seharusnya dirimu yang menikmati semua itu di malam valentine ini. Meski tetapi aku tetap tersenyum menatap rembulan gosong melayari malam. Sedang engkau kini aku tak tahu kebahagian itu, kemesraan itu, keindahan malam-malam mu.

Bunga?

Valentine mu bukan lagi milikku, atau aku akan katakan kepadamu bahwa untuk siapa sebenarnya valentine ku. Dan sampai hingga aku benar-benar merayakan keindahan hari raya rakyat roma katolik, aku tetap menunggu untuk sekedar menjelma Santo Valentinus. Suatu saat, entah. Happy Valentine Day, My Flower.

Gm/13 Februari 2010. 17:30.

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Sabtu, November 07, 2009

Selamanya Menyejukkan Aku

aku ingin berharap!
tapi harapanku terbongkah kesetiaanmu,
1001 harapan kini berubah jadi do'a persahabatan,
menyejukkan rasa lara dan kecewa,
menjadi pelita antara kegamangan,
atas nama cinta//

aku ingin berharap!
tapi harapanku tersapu bersama cucuran air mata,
memajang cinta diantara mata,
senyuman kini pesona pelipur duka,
memberi jalan pada cinta kedua,
walau dalam rasa yang beda//

aku ingin berharap!
tapi harapanku tersipu malu,
logika tak mampu berkata cinta,
yang [ternyata] lebih indah tak sekedar kata,
kini aku sadar, bahwa harapanku sebatas teman sejati//

aku ingin berharap!
tapi tak menyadari harapanku...
bahwa ungu tak selamanya ungu...
namun ungu selamanya menyejukkanku//

G O M B A L M U K I Y O, 8/11/2009


Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Minggu, Oktober 25, 2009

Tunangan dan Sex Bebas

”Malam yang indah, sumringah dibawah sinaran bulan kecil berteman bintang nan jauh. Berbondong-berkonvoi bersenjatakan senyuman tulus, keluar dari gubug calon raja menuju istana calon ratu, segala sesaji tujuh rupa diperlihatkan kecuali satu nan rahasia [cincin] sebagai tanda perikatan [permohonan/khitbah] sebelum pengangkatan sang raja. Kini si bujang mulai tenang walau jauh melanglang, diantara cincin keyakinan itu tersematkan, sampai datang malam nanti disaat sang sufi menqabulkan permintaan [nikah] sang raja.”

Sebelum menjalani hidup sebagai sepasang keluarga, dalam Islam dianjurkan untuk melakukan khitbah atau tunangan/melamar terlebih dahulu. Tunangan [khitbah] memiliki makna permohonan untuk menjalin hubungan sebelum nikah. Selain sebagai keinginan [keseriusan] untuk menjalani nikah, khitbah juga bisa artikan sebagai proses pengenalan [status] wanita yang ingin ditunangi, sebab dalam Islam wanita yang telah bertunangan tidak dibolehkan untuk menerima tunangan dari orang lain, begitu juga lelaki tidak dibolehkan untuk mekhitbah wanita yang telah dikhitbah. sedang bagi wanita yang telah menikah [cerai], maka khitbah dilangsungkan [dibolehkan] setelah habis masa iddahnya.

Di Indonesia, tunangan/melamar biasanya dilakukan oleh kelompok [keluarga] dari sang lelaki yang datang ke pihak wanita dengan membawa berbagai macam makanan dan pemberian cincin bahkan uang sebagai bentuk keseriusan dari pihak peminang kepada wanita atau sebaliknya. Ironisnya, Setelah pertunangan selesai, biasanya laki-laki datang [apel] di malam harinya. Seakan menjadi sebuah tradisi, pihak perempuan sengaja mempersiapkan diri untuk memonggohkan pelamar, bahkan sampai waktu yang tidak biasa [larut malam] tanpa ada teguran dari siapapun -orang tua dan masyarakat-. Hal ini seakan menjadi sah [biasa] setelah status pertunangan, masyarakat memandang biasa bagi pasangan yang telah bertunangan.

Bagi pihak keluarga pun seringkali memberikan kebebasan kepada anaknya setelah statusnya pertunangan. Padahal tunangan/khitbah belum tentu nikah, khitbah hanya permohonan untuk kearah nikah. Jadi secara Syar’i keduanya masih orang lain dan haram untuk melakukan layaknya suami istri. Jika ”kebebasan” terjadi maka pihak wanita yang sangat dirugikan, apalagi jika ternyata tidak terjadi pernikahan seperti yang diinginkan dari tunangan. Keleluasaan atau kebebasan yang diberikan oleh orang tua, secara tidak langsung menimbulkan benih-benih sex bebas yang sering kali tidak terdeteksi.

Perilaku sex bebas sudah menjadi hal yang tidak tabu bagi masyarakat Indonesia. Anak-anak, orang dewasa, dan orang tua, dari segmentasi apapun mulai mengenal sex bahkan tidak sedikit yang melakukannya sebagai bentuk kesetiaan seorang pasangan. Oleh karena itu, tidak dianggap setia jika pasangan [wanita] tidak mau melakukan sex bebas atau hubungan yang mengarah kepada laku sex bebas. Lihat saja, beberapa kasus nikah dini, hamil sebelum resepsi pernikahan atau sex bebas yang dilakukan oleh anak sekolah sebagian besar mengaku karena alasan kesetiaan [keseriusan] hubungan cinta mereka. Apalagi sebagai seorang hawa, dimanapun ia tidak ingin dianggap sebagai orang yang tak setia.

Kini, sejalan dengan merebaknya sex bebas yang berarti mulai luntur nilai-nilai agama serta norma sosial di masyarakat. Modus atau cara yang digunakan oleh penikmat atau pelaku sex pun semakin berkembang. Tidak hanya di kota-kota besar yang notabene kota metropolitan, sex bebas kini mulai menjamah kota-kota kecil dan pedesaan. Bahkan pertunangan pun sering dijadikan sebagai alat legitimasi terhadap laku sex bebas. hal ini dimotori oleh laku membebaskan orang tua terhadap pasangan yang telah bertunangan, sehingga secara tidak langsung memberi ruang bagi mereka untuk bebas melakukan apapun demi kesetiaan atau kesungguhan calon pasangan. Realitas hamil sebelum nikah atau mengandung disaat melakukan resepsi menjadi bukti sahih dari laku sex bebas setelah pertunangan. Ironis tapi inilah realitas masyarakat yang mulai merebak.

Padahal kita tahu, jika ternyata pertunangan itu mengalami masalah [putus], maka tidak ada hukum syar’i bagi pihak laki-laki atau perempuan, hanya hukum sosial yang berlaku [blacklist] dan bagi pihak laki-laki itu tidak berarti apapun. Apalagi jika kegagalan [seleh] itu terjadi setelah melakukan sex bebas dengan alasan kesetiaan, maka wanita yang mendapatkan kerugian paling besar. baik secara fisik maupun mental, secara fisik masyarakat bisa tahu bahwa dia telah melakukan hubungan sex dengan bukti kandungan. sedangkan secara mental, ia akan merasakan malu setelah masyarakat tahu bahwa dia tak lagi "virgin" apalagi tanpa suami. sekali lagi, bahwa pertunangan / khitbah hanya perantara "kesungguhan" pihak laki-laki atau sebaliknya untuk melakukan nikah.

Pertunangan/khitbah merupakan bagian ritual masyarakat sebelum pernikahan, maka memiliki nilai luhur sebagai permohonan untuk melakukan hubungan serius dalam pernikahan. Artinya bukan berarti kita membebaskan begitu saja bagi pasangan pertunangan, sebagai orang tua atau masyarakat maka pengawasan [penyadaran] terhadap pasangan pertunangan harus dilakukan. Sebelum benar-benar ia memaknai pertunangan sebagai pembolehan atau ”kebebasan” untuk melakukan apapun termasuk sex bebas. Sekali lagi kita belajar dari laku masyarakat, dan hari ini pertunangan menjadi pelajaran yang baik juga. Bukan Begitu?

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Rabu, September 16, 2009

Sajak Pinggiran

Topeng


Ssttt?! Dengarkan,

Betapa Indah Suaranya,
Sehalus Mulus Bibirnya,
Sebening mata lentiknya,
Aku tak percaya, begitu Engkau Sempurna...

Lihat? Juga,
Begitu Tenang Gerak Gigi Menusuk Pipi Apemnya,
Disertai senyum gingsulnya, Bech...
Alamak.....

Bagaimana ia membalut rambut panjangnya,
Dengan Kerudung putih,
Ditambah sedikit pewarna bulu mata,
Bech….

Katanya, tentang wanita yang ia benci, sekarang.

Tapi tak perlu engkau tahu,
Bagaimana ia menusukkan Bisa dibalik
Kesempurnaannya sebagai ciptaan-Nya...

Alamak...
Begitu Rapat TopengNya.

-------------***--------------

Maaf...


Maafkan aku, anakmu
Yang tak pernah malu,
Berlaku congkak dibawah do'amu
Nan tulus tak berbalas,
Maafkan aku, Ibu?

Biarkan aku habiskan
Semua sisa air mata ini
Didepan kaki sucimu, Ibu
Berikan tanganmu penuh ampunan,
Kan ku cium setulus maaf mu
Untuk semua dosa membatu ini
Kepada mu pengampun setelah tuhanku.

Biarkan tangisan ini, Ibu
Sebagai bhakti ku kepadamu
Semua do'a mu tak mampu aku balas,
Tak mampu aku membalasnya hari ini,
Sebatas tangisan ini aku bisa
Ibu, aku malu kepada tetesan itu...

Ibu, entah berapa lipat dosaku padamu
Tak pernah aku merubahnya,
Tak pernah aku mendengarnya,
Tak pernah aku meratapinya,
Tapi engkau ikhlas sebening embun
Merela-hapuskan semuanya
Ibu, aku mengadah kepadamu
Memohonkan ampun semua laku hidup
Hari sebelum dan setelah ini
Aku memohon bersama sisa ikhlas ku, kepada mu

Ibu, jangan kau palingkan rahmatmu
Karnanya aku bahagia mengarungi kehidupan ini
Jangan kau kurangi ampunanmu, dengannya aku beribadah
Tanpa ampunanmu tak berharga semua taubatku

Tuhan,
Engkau Maha Ampun, ampuni sang pemaafku
Engkau Maha Kasih, kasihi sang pengasihku
Engkau Maha Penyayang, sayangi sang penyayangku
Engkaulah Sang Penerima do'a sesungguhnya
Setelah ibuku di dunia...

Dihari raya ini...
Maafkan Semuanya Ibuku...
Aku menangisi diriku dibawah telapak kaki Mu
Ibu...


............Untuk Turasih Binti Tarjani..........

----------------***-------------------

Dihari Nanti...


Dihari Nan Suci,
Kini Dia Tersenyum Menanti Hadirmu Sekali,
Membawa Cinta dan Bunga Tujuh Rupa,
Sesekali Tetesan Air Mata Jatuh Berlilit Do'a,
Puja Puji Melebur Dosa Lama, serta
Pengharapan Kebahagiaan Bersama Didunia Berbeda,

Dihari Nan Indah,
Wasilah Menjadi Lorong Pembuka Menuju Petapa,
Duduk Merunduk Menanti Sang Suci di Hari Nan Fithri,
Datang Beraroma Surga, Berparas Imut Si Mungil,
Menebar Do'a Mustajab Bagi Engkau Yang Terma'fu,
Kaupun Ikut Terpuaskan Disana,
Di Alam Barzah bersama Arwah nan Indah...

Dihari Nan Fithri,
Sebelum Ketupat Dilipat,
Menjemput Rumah Kecil Tak Berpintu,
Merebah Mengarah-Hadapkan Utara,
Membawanya Bergembira, Seperti Mereka
Dihari Nan Gembira, Bersama Do'a
Semoga Engkau Suka dan Ia Terima, Amin.

Dihari Nanti,
Tuhan Pun Tahu, Dimana
Segala Do'a Dipanjatkan,
Bagi Insan Terpisahkan, dan
Oleh Takdir Yang Mematikan,
Dihari Nant,i Dia Berdo'a...


.........Do'a Untuk Kaprawi Ibn Syarif (Bapak)........

-------------***------------

MerinduMu


Datanglah, Setelah Ku Ciumi Ibunda,
Sudah Pasti Setelah Itu Giliran Engkau?!
Tak Usah Telepati, EngKau Ingat Itu
Kewajiban Ku dan Rutinitas Kita

Jangan Kau Tak Nampak Nanti,
Seperti Kemaren Karna Perbedaan Dunia
Karna Ini Special, Tidak Seperti Dunia Kita Bersama

Atau Kami Yang Mengunjungi Engkau?
Aku Tahu Usia Mu Mulai Renta
Sedang Dinding Surga – Dunia
Berlipat Jauhnya, Kasihan Engkau Nantinya

Do’a?! Ya, Do’a Berbunga, Kau Suka Itu?
Tak Lebih Atau Kurang? Mumpung Kami Ada, Nanti
Diapun Janji Hadir Menyalami Mu
Yang Dulu Pernah EngKau Tanya-Kagumkan

Dia Tak Pernah Menduakan Engkau, Pasti
Itu Yang Kau Inginkan, Aku Tahu!



...............Kaprawi Ibn Syarif (Ayah), Kami Merindumu.................

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Sabtu, Agustus 29, 2009

Wallahu A'lamu Bishowabi...

Pagi ini sebelum suara sumbang toa mushola menggema memberi kabar tentang waktu imsak, aku dan bayangan kantuk menemani menelusuri jalan kota, disebuah warung kecil aku berhenti sejenak mengisi perut sebagai salah satu pelengkap puasa hari ini, sahur. Seorang wanita baya dengan lelah yang nampak dari raut wajahnya berselimut kerudung lusut, walaupun demikian ia dengan ramah menguguhkan nasi dan teh hangat sesuai pesanan. Aku mulai mengawang jauh dalam pikiran, mungkinkah beliau berpuasa seperti puasa saya atau seperti puasa para saudagar muda? Berapakah bobot timbangan dari puasanya? Sama atau lebih berat nilai pahala di setiap pelaksanaan puasanya nanti? wallahu'alam...

Puasa, menurut polapikir manusia secara universal merupakan ibadah transendental atau sebagai laku komunikatif antara diri dan ilahi seperti halnya solat. Kita seringkali tidak memperhatikan kondisi sosial atau minimal memberi nilai pengabdian kepada sosial dalam laku poso. Dalam laku seperti itu tak pelak poso lebih mudah dilaksanakan, berbeda jika kita diposisikan layaknya ibu penjual makanan diwarung, sebagai petani yang kepanasan atau tukang becak, dsb. mereka melaksanakan poso sebagai laku ibadah sosial, artinya bukan hanya laku transendental melainkan juga horisontal dengan memberikan kemanfaatan kepada khalayak lain. Dalam pikiran ku selayaknya mereka mendapatkan keringanan dalam pelaksanaan atau mendapatkan pahala yang beda dalam setiap satu kalinya. wallahu'alamu.

Malam ini, dengan memperhatikan ibadah seorang ibu aku jadi teringat sosok ayah ku yang dalam pandanganku sering tidak melakukan puasa karena kondisi tekanan yang beda -petani-. aku sering mengatakan islam ayahku kurang lengkap karena seringnya ia tidak puasa, walaupun aku tidak tahu bagaimana super beratnya melawan terik matahari dan kehidupan sawah. Ternyata asumsi itu tidak hanya keluar dari aku, banyak orang-orang mengatakan atau bahkan memojokkan tukang becak, tukang bangunan, dll dengan ketidaktaatan kepada kewajiban. Seakan mereka menyamaratakan laku poso mereka -pekerja kantor- dengan pekerja jalanan -langsung terkena sengatan matahari- yang secara fisik mendapat tekanan berbeda.

Seperti halnya solat, setiap pelaksanaannya ada ruksoh bagi yang tidak mampu sesuai kondisi fisik dan mental pun demikian seharusnya puasa, bagi pekerja kasar ada sedikit keringanan, misalnya puasa setengah hari dengan nilai yang sama. Sehingga orang muslim dapat melaksanakan kewajiban yang satu ini dengan hati yang senang. tapi dalam otak kecil ngatakan bahwa klasifikasi shoimuun menurut al ghozali dengan awam, khos, dan khowasul khos ditentukan karena kondisi tekanannya. wallahu'alam

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Belajar dari Ketut

Malam ini sangat indah, bukan karena keheningannya ditambah semilirnya angin malam dan lukisan bintang ciptaa-Nya justru keindahan ini terpancar melalui sikap dan laku manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dingin malam yang menusuk rongga pori2 tak mampu mengalahkan kekuatan sebuah tawa, marah dan tangis, malam ini. Ya, Malam penuh tawa, penuh amarah akibat ketidaktepatan menempatkan kentut, memang kentut itu anugrah dan sebagai muslim harus mensyukurinya. Namun jika tidak diatur -kondisikan- jadinya selain tawa, musibahpun bisa datang karenanya. hehehe

Entah karena tekanan dari orang dewasa -biasane cah cilik yen sholat neng njero mesti oleh teror ko wong tua, ora oleh gojeklah, ora oleh meta-metulah, ora oleh ngguyulah, dsb- sehingga peristiwa kentut membuat ketawa malam ini. malam ini pun seakan menjadi pelajaran yang penting, bagaimana orang tua memberi pelajaran kepada anak dengan "biyadih" atau lebih tapat "hukuman fisik" untuk memberi rasa jera kepada pelaku kemungkuran, dan menafikkan asas kemaslahatan dari sisi spikologis seorang anak. Mungkin ia menyerap seluruh hadist "man ra'a minkum munkaaroon fal yu ghoyyir biyadih, faillam yastati' fabilisaanih, faillam yastati' fabiqalbih, fadzalika adh'aful iman", maaf kalau kutipan hadits salah, barangkali ia ingin menjadi muslim kaffah sehingga perlu memberi pelajaran kepada siapapun yang tidak menempatkan kebathilan pada tempatnya dan hal ini masih saja terjadi di sini. "semoga tidak untuk kota lain". amin.

Hanya karena tidak sengaja kentut, (karena siapa yang bisa menahan kentut) anak menjadi bulan-bulanan tidak hanya dengan hujatan tetapi lebih dari itu semua menertawakannya. Padahal secara psikologis, anak rawan strees yang berpengaruh terhadap perkembangannya. Memang benar bahwa itu (kentut) salah karena tidak pada tempat dan waktu yang tepat, tetapi tidak seharusnya ia mendapatkan perlakuan seperti itu, mungkin inilah watak orang-orang disekeliling ku atau lebih universal menjadi watak bangsa untuk menertawakan kesalahan orang lain. "Mungkin?", tapi paling tidak menjadi "kaca benggala" bangsa ini.

Kasihan dia "anak kecil yang tak tahan kentut" hanya karena ingin mensyukuri rahmat Tuhan, ternyata justru adzab manusia yang ia dapatkan. Padahal tak semestinya mendapat perlakuan itu sedang ia dalam kondisi yang masih butuh bimbingan. Semoga Esok manusia mau berfikir 100x untuk melakukan sesuatu, dan mempertimbangkan segala hal termasuk sisi psikologis seorang anak, dalam kasus "kentut" malam ini.

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Cerita dari Kamar Kecil

Siang hari begitu panas tanpa hembusan angin sedikitpun, daun-daun berjatuhan tak kuasa menahan terik matahari menambah kesan gersang dihalaman rumah. Tampak dikamar kecil disudut belakang rumah dua orang yang begitu akrab terbaring tak berdaya menahan tubuhnya masing-masing. Rohim dengan tubuh langsing seperti stick drum, ia terispirasi grup band the changcuters yang menjadi idolanya. Disebelah kiri, si Andi, begitu menurut KTP, berperawakan tambun layaknya drum dengan keringat yang bercucuran tanpa sehelai pakaian. Ia sibuk mencari kipas untuk mendinginkan tubuhnya. Tak lama sosok dengan tubuh mungil sedikit tambun, "Ach...sueeeger Rek?! mencoba meledek dua temannya yang terkapar tepat didepannya. Habibi, begitu dua sahabatnya memanggil. Jam piro bib? sahut Rohim dengan penuh kebingungan. "Jam 4...Ndang do adus kono...?" habibi membalas sambil melempar handuk kuning ditangannya tepat diantara keduanya. Yo...! satu persatu bergegas dari tempat tidur seakan sudah punya agenda yang telah lama dirancang.

Jam becker mendering dengan keras, Kriiiiiiiing!!! Ayo Him, wis jam limo ki!!! untuk ketiga kalinya andi memanggil si rohim yang memang perfectionis. Yo, Ki loh..." dengan peci ditangan si rohim akhirnya keluar dari kamar. "Nengdi ki?" kata Andi sambil memasukkan baju hitamnya kedalam sarung bermotif kotak-kotak. "Sing Penting Piye Carane Oleh Jaburan!!!"; "Yen Ra Ngono Arep Buko Mbe' Opo? Mbe' Wedus...?!", si Rohim meyakinkan temannya. "Oh...Yo Bener Kowe Brow...?". Andi mengamini ucapan Rohim. " tak berlama bak senator mereka mendiskusikannya. "Moh!!!", dengan tegas Habib merespon hasil diskusi, bak bom jw marriot, ketiganya terbang dari tempat semula. "Gah!!! Moso Aku dewean...?! Ra Sido yen ngono...?! sambil berlalu dengan sendiri membawa rasa marah dalam hati dan mulut kecil yang sebentar-bentar mengeluarkan suara tak jelas.

Suara adzan bergema menemani smilir angin malam dan deru kipas melengkapi sidang makan siang ketiga jagoan malam, seakan melupakan agresi militar sore hari. Dengan ramah Andi mengawali sidang; Wah...alhamdulillah...?", Nikmate bisa berbuka bersa...ma...". "Yo brow, yen awake dewe ko ngene terus bisa naik sepuluh kilo...haha", timpal Rohim sembari menepuk perut langsingnya, Plukk...Pluk,,,,!!!, Makane Ndi...? sahut habib, seraya menjelaskan kepada musyawirin, "Yen bareng-bareng mangkat, olehe yo okeh...?", Jo koyo mau...?! tambahnya. seakan Habib Mulai mengarahkan senapannya kepada Andi. Dengan Nada Kesal, Andi merespon todongan Habib; "Maksudmu...?!". Brakk...!!! tangan Andi jatuh diatas meja. "Lah mau...?! Moso aku kon mangkat dewe, yo ra' sudi...?! Habib membalas dengan menarik pelatuk pistol kosongnya. Enakke dewe...?! dengan nada pelan habib mengakhiri gumamnya. "Wis...To?" Rohim mencoba menyiram emosi keduanya.

Seperti biasa, saling jual-beli amunisi tak terelakkan setiap mereka bersama. Beruntun Habib menjual kata-kata; "Kui...Koe nganyeli Ndi...!!!; "Senenge Mojoke Aku; Dikiro aku rak ngerti po py!!!", Habib berdiri dengan pelan mendekati Andi yang mulai beranjak dengan pose Mike Tyson. "Karep Mu opo Bib..?!!!" Andi membeli ucapan Habib. Tiba-tiba..."Meneng!!!" Rohim dengan cekatan berdiri diantara keduanya, layaknya wasit. "Wis tua ra' do nuani, utekmu nggonen!!!" sambil mengangkat tangan dan jari telunjuk tepat atas pelipis, seakan memberi peraga kepada kedua temannya itu. "Jane Koe ki ana apa toh...?", Gaweane paduuuu....ae, ra koyo ndek mben?" kata Rohim dengan ekspesif seakan mengingatkan kepada keduanya tentang masa lalu.

Allaaahu Akbar....Allaaahu Akbar, Suara adzan pun menyambut mereka dengan merdu. mereka yang semula seperti korban kebaran, seketika berubah masam walaupun rasa kesal masih terpampang dari keduanya. "Adzan kae loh?" Rohim menegur keduanya dengan sedikit nada tekan. "Yo do solat...wis ra sah rame neh...!" Rohim mengakhiri Genjatan Senjata. Akhirnya merekapun berlalu mencari perlengkapan sholat sendiri-sendiri. Malam begitu dingin hari ini seakan menjadi saksi berakhirnya Agresi malam ini. Seperti biasa mereka keluar dari kamar rumah yang kecil dengan ekspresi yang berbeda, membuat semua orang terkagum dengan persahabatan yang nan indah. Walaupun dalam dapur mereka sering memiliki perbedaan, akan tetapi tidak untuk dipublikasikan, begitu kira-kira janji yang pernah tersemat dalam jiwa mereka bersama. ....bersambung).


Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Babak 6; Sholat Ku, dan Mereka

Anak kecil adalah sumber inspirasi bagi manusia dewasa, dalam pengamatanku memang benar. anak kecil merupakan sumber dari segala sumber perilaku orang dewasa, terutama orang tua. Tertawa, Marah atau Sedih sering jadikan respon orang dewasa terhadap stimulasi yaitu anak kecil. laku "lugu" anak-anak memang menggelikan, memusingkan atau "nganyeli", tapi sebagian responden akan memlilih lucu sebagai laku responsif. Terutama aku, Hehe..

Hari ini begitu mengocak hati ku, hehehehe. Aku tertawa -tp tak bersuara- melihat dua kelompok manusia yang berbeda kualitas otaknya, hehehe. Akan tetapi perbedaan itu tak nampak setelah melihat laku keagamaan hari ini. Ya, orang dewasa bisa meniru laku "lugu" seorang anak, yang membuat hati ku tak ingin berhenti tertawa...hehehe, Kok Bisa?! aku mengendapkan pertanyaan sebagai kegaguman. "Lucu...banget?! sesekali aku bergeming.

Padahal Sepele, tapi bikin terpingkal-pingkal...". Berawal dari sholat tarawih cerita ini; Biasa, namanya anak kecil jika berkumpul -siapapun bisa membayangkan bagaimana keramaian itu sebagai akibat komunitas anak- saling pukul, saling cubit, cerita film favorit, dll semua dilakukan sebagai ekspresi kebahagian buah dari kebersamaan atau Silaturrahmi. Pun tidak menghiraukan bahwa momentumnya tidak tepat, ya, waktu itu sholat tarawih. Waktu ruku', misalnya, ada yang dorong dari belakang hingga terjatuh, dan "Hahahaha..." sebagai ekspresi kebahagiaan. Padahal para mubaligh sudah berkali-kali mengingatkan untuk sholat khusuq atau sholat dengan tenang, jangan bermain atau sampai buat orang lain marah, eman-eman...?!, kata mubaligh. Tapi namanya anak-anak, sebelum ia benar-benar mendapatkan hukuman yang nyata maka tidak mungkin ia mau merubah perilaku itu.

Tak pelak, orang-orang dewasa yang mulai terganggu dengan keramaian itu berusaha menghentikan keramaian tersebut, ia merasa sholatnya tidak husuq -ikut rame- karena cubit-cubitan, cerita film yang dilakukan oleh anak kecil. Ya, berarti orang dewasa juga ikut rame -dalam hati- sehingga dia tidak khusuq, tanyaku dalam hati.. Anak-anak menjadi bulan-bulanan laku ingin khusuq dari orang dewasa, seakan menjadi Tuhan sebagai pemberi pahala dan penerima ibadah dengan menerima yang diam dan menghukum yang rame atau pahala ibadah bagi yang diam dan haram bagi yang rame... Tp dalam hati berkata; Wajar aja, karena yang diberi pelajaran anak kecil?! Emang benar, aku melihat segerombolan orang dewasa yang berlaku sama dengan anak kecil, tapi kebal hukum.

Dengan tenang dan tanpa rasa takut, seperti halnya anak-anak kecil, orang-orang dewasa bergurau bahkan sesekali tidak sholat sekedar ingin teng-teng crit (tengak-tengok crita), padahal dia berada dishof kedua sebelum shof terakhir. Bahkan lebih lucunya, mereka ikut menghukum anak-anak yang membuat keramaian. Awas!! Sing Rame Tak Gebuk!! ungkapan yang keluar, seakan menjadi malaikat munkar - nakir yang menakutkan. Hahahaha..., Aku tertawa -dalam hati- bukan karena anak-anak mendapatkan hukuman, pun mereka yang kebal hukum, melainkan orang dewasa juga bisa anak-anak, butuh tertawa tanpa melihat kondisi dan situasi, hahahaha....

Lebih menggelikan, aku kira sedulur pasti juga tertawa, melihat cara sholat orang-orang dewasa yang belajar dari anak-anak, saling dorong, saling tendang, saling ngrumpi dan itu masih saja terjadi di masyarakat, hahahaha.... Bagiku itu keindahan hidup asalkan tidak mencoba menjadi Tuhan dengan mengklasifikasikan diterima dan tidak laku keagamaan kita atau menghakimi anak-anak yang berlaku demikian, seperti yang aku lihat di dunia ku ini...

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo

Babak 5; Dua Hari Berlalu

Dua hari telah berlalu, rasa bangga mulai mengembang dalam hati ku, keinginan untuk segera mengakhiri kewajiban satu tahun sekali ini menjadi tujuan yang slalu menghiasi laku puasa esok dan selanjutnya. maklum untuk menahan lapar dan dahaga bagiku dan sebagian orang adalah kebiasaan, tapi untuk puasa rohaniyah bagiku masih dipertanyakan. Karena slama dua hari jiwa-ragaku masih diselimuti keinginan-keinginan untuk membagi keadaanku, dengan ungkapan-ungkapan yang menyedihkan dengan hasrat teman-teman yang lain mengerti puasaku adalah puasa sesungguhnya.

"Selamat menunaikan puasa, semoga amal kita diterima Allah", kalimat yang sering aku kirim kepada teman-teman nun jauh di seberang. Seakan aku ingin dimengerti bahwa hari ini aku menjadi orang yang beriman karena kewajiban puasa menurut al baqarah 183 merupakan kewajiban orang-orang yang beriman. aku menjadi sangat bangga jika ada balasan atau komentar yang keluar dari beranda ku untuk mengamini keinginan ku, "Sama-sama...?" ungkapan yang telah ku siapkan sebagai balasannya.

Ungkapan-ungkapan motivatif aku siapkan setelah hari seakan menjadi benalu dalam pelaksanaan puasa. "Ayo tetap semangat, walaupun panas banget...!"; "Aku lemes tapi tetap semangat?!"; Pingin tidur biar gak terasa panas.", merupakan sebagian pesan yang aku sebarkan kepada teman-teman, Aku ingin agar mereka juga merasakan dan memberi semangat terhadap kondisi fisik ku saat ini. "Tetap semangat, brow!; Gitu ja dah lemes, ayo Lanjutkan!; tanggapan yang ku simpan sebagai media penyemangat puasa ku hari ini. Ungkapan-ungkapan lain seperti; Hari ini begitu melelahkan, padahal baru pertama puasa, Tuhan Tolong?, aku tulis dengan tanda baca memelas agar tuhan memberi keringanan kepada ku hari ini, karena memang begitu panas dan menyiksa. Padahal aku tidak merasakan begitu panasnya derita teman-teman yang setiap hari makan sekali dengan kondisi alam yang sama. Tuhan Angkat derajat mereka kaum miskin bukan karena takdir Mu melainkan Takdir manusia.

Setelah tak terasa -karna tidur- akhirnya rasa semangat mulai mengembang kembali, seakan kemenangan puasa ada didepan, tinggal digenggaman tangan ku, akupun mulai merajut puisi kemenangan; "Kemenangan puasa bukan karena kita merasa lolos lapar dan dahaga, melainkan kita mampu menahan ego dan nafsu dalam sanubari", "Mentari mulai mengering menjadi saksi datangnya bulan bersama menghilangnya mega merah di langit tertinggi", "Sambut kemenangan ku wahai malaikat kecil ku, Terima kasih Ya Allah Yang Maha Bijaksana". sebelum sambutan penutup puasa layaknya muballigh; "Al Hamdulillah, aku menjadi saksi Keagungan Mu, semoga ibadah ku hari ini Engkau terima layaknya ibadah para sufi, Amin", Selamat berbuka puasa, teman-teman. balasanpun berdatangan layaknya tamu dibulan syawal, senangnya hatiku hari ini.

Tidak berbeda dengan hari ini, selanjutnya sebagai salam pembuka; Sahur-sahur........Selamat Menikmati sahur..., sampai akhirnya Sholat Subuh ah...?! menjadi ibadah yang layak ku beritahukan kepada teman-teman yang tak nampak. begitupun balasannya, mereka seakan mengikuti perkataanku, Ayo berjama'ah agar dapat 27 kali lipat." Ajakan yang menggiurkan, walaupun semua muslimin dimanapun pasti tahu. hampir tidak ada perbedaan sama sekali antara puasa hari pertama dan kedua, karena memang memberi kabar kepada teman itu sebuah keharusan bagiku sebagai sarana pengerat silaturahmi. Padahal motif egosentris menjadi dominasi dari niatnya. Semoga kalian tidak.

Inilah puasa hari pertama dan kedua ku, begitu indah dan mudah bukan! Tapi aku tak tahu diperingkat berapa puasaku menurut Al Ghozali? Semoga kalian lebih menikmati puasa ramadhan seperti puasanya Kaum Khos atau bahkan khowasul khos, yang tidak puasa hanya menahan keinginan konsumtif, tapi lebih dari itu, Amin.

Rohim Habibi, Pengajian Kalimat, Solo